Simulakra Teknologi Digital di Era Post Truth dan Pendangkalan Nilai Demokrasi

Bambang Santoso, Harjono Harjono, Muhammad Rustamaji

Abstract


Abstrak

Jean Baudrillard melalui Simulation (1983) membuat ancangan pikir yang memprediksi bahwa realitas pada akhirnya telah mati. ‘Dunia baru’ yang Baudrillard sebut sebagai ‘Galaksi Simulacra’, ternyata melanda seluruh aspek kehidupan tidak terkecuali demokrasi. Dialektika tentang demokrasi yang memberikan peluang bagi setiap anak bangsa untuk bebas mengemukakan pendapat, justru berujung kebebasan yang menabrak batas-batas hak asasi manusia sesama warga bangsa. Diam-diam primordialisme agama, golongan, suku bangsa, kedaerahan, dan segala pengelompokkan sosial yang eksklusif bangkit kembali yang bersenyawa dengan proses politik liberal yang sejak reformasi menjelma sebagai belenggu baru yang membatasi kehidupan kebangsaan. Otonomi daerah yang kian liberal beraroma federasi kian memperkuat sekat-sekat revitalisme primordial baru itu. Diksi ancaman “merdeka” dan “referendum” yang meletup di satu dua daerah ketika proses pemilu 2019 yang cenderung mengeras, menunjukkan betapa bersumbu-pendeknya nalar sebagian anak bangsa di negeri ini.Demokrasi akhirnya mengalami pendangkalan yang pada tahap ini tidak lebih hanya menjadi narasi tekstual dan dipisahlepaskan dari konteksnya. Demokrasi justru memunculkan simplifikasi yang mereduksi detail beragam hal yang menyelimuti kompleksitas realitas post truth di dalamnya. Beragam perdebatan yang disuguhkan melalui televisi, media massa bahkan maraknya hoax melalui media sosial berbasis teknologi digital inilah yang dalam pandangan Baudrillard merupakan medan yang mengkondisikan khalayak ramai untuk ditarik seluruh perhatian dan konsentrasinya ke dalam sebuah mandala layaknya black hole. Ia menyebutnya Simulacra, yaitu realitas yang ada adalah realitas maya, realitas semu, realitas buatan (hyper-reality). Akhirnya kontestasi demokrasi yang menjunjung tinggi nilai keadaban serta nilai kemanusiaan tenggelam dalam riyuhnya dunia digital yang penuh kebenaran dangkal (post truth) akibat penyedehanaan demokrasi yang monofaset.

Kata kunci: pendangkalan nilai demokrasi, post truth.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




SENASPOLHI FISIP UNWAHAS IS INDEXED BY :

Google 

Scholar
 

Alamat kami di :

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim
JL. Menoreh Tengah X / 22, Sampangan, Gajahmungkur, Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50232, Indonesia
Handphone: +628122884193 (Anna Yulia Hartati, S.IP., MA.) / +6287722594299 (ari)
Email: senaspolhi@unwahas.ac.id

View My Stats