PROSES PERMESINAN BUBUT PADA KACA

. Rusnaldy, Susilo A.W, Yusuf U, Norman I Norman I, Triana A, Dika F.P.S

Abstract


Kaca termasuk jenis material yang getas. Sebagai material yang getas, sifat ketermesinan
(machinability) kaca sangat rendah karena nilai fracture toughness-nya yang rendah.
Kekuatan fracture (fracture strength) kaca lebih rendah dari kekuatan luluhnya (yield
strength). Ketika kaca diberi beban tarik atau tekuk pada suhu kamar, maka kaca akan hancur
sebelum terjadi deformasi plastis. Itu sebabnya maka proses pemesinan jarang diterapkan
pada kaca. Permasalahan utama proses pemesinan material getas seperti kaca adalah proses
pembentukan geram dapat menimbulkan kerusakan yang cukup parah di permukaan dan di
bawah permukaan (subsurface). Kerusakan seperti ini jelas menurunkan kualitas hasil proses
pemesinan. Untuk menghasilkan permukaan yang halus pada material getas, adalah sangat
penting jika material getas dilakukan proses pemesinan dalam kondisi ulet (ductile cutting
mode). Untuk itu maka serangkaian eksperimen proses pemesinan bubut pada kaca telah
dilakukan untuk mencari parameter optimum dari proses pemesinan kaca. Selain itu juga
diteliti umur  pahat yang digunakan dan proses pendinginan apa yang mampu untuk
memperpanjang umur pahat. Sehingga nantinya akan berdampak pada nilai ekonomi proses
pemesinan kaca jika nanti dapat diterapkan di masyarakat. Dari hasil yang didapatkan
ternyata proses bubut pada kaca dapat dilakukan. Kondisi permukaan paling baik didapatkan
ketika proses bubut dilakukan pada  radius nose 5 mm, depth of cut 0,5 mm, feed rate 0,045
mm/rev, kecepatan spindel 30 rpm dan kondisi permesinan menggunakan  cairan pendingin
dromus. Dari hasil ini juga terlihat bahwa Laju keausan tepi pahat HSS pada proses
permesinan kaca sangat tinggi, sehingga dengan pertimbangan ekonomis pahat HSS tidak
dapat digunakan
Kata Kunci  : Permesinan, Kaca, High hydrostatic pressure, Ductile cutting mode, Laju
Keausan Pahat

Full Text:

D7. 35-39 PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.