Main Article Content

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk keterlekatan sosial (social embeddedness) sebagai strategi resiliensi warung tradisional dalam menghadapi persaingan ritel modern di Kelurahan Menteng, Kota Palangka Raya. Menggunakan metode kualitatif studi kasus dengan analisis model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014), data didapatkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap pemilik warung serta pembeli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi warung tradisional di kawasan pemukiman padat ini ditopang oleh keterlekatan relasional dan struktural, yang termanifestasi dalam praktik transaksi informal seperti sistem kasbon, serta fleksibilitas penjualan komoditas dalam satuan mikro (eceran informal) yang tidak dimiliki ritel modern. Temuan ini mengonfirmasi bahwa tindakan ekonomi pemilik warung senantiasa terikat dalam jaringan sosial dan kepercayaan timbal balik (trust), di mana interaksi personal mampu melunakkan sikap blasé (acuh tak acuh) masyarakat perkotaan yang cenderung impersonal. Secara pragmatis, loyalitas konsumen tetap terjaga karena warung dipandang sebagai solusi konsumsi yang rasional dan efisien bagi kelompok masyarakat berpendapatan harian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa warung tradisional bukan sekadar unit bisnis murni, melainkan entitas sosiologis yang berfungsi sebagai jaring pengaman ekonomi dan instrumen redistribusi sosial di tingkat akar rumput.

Article Details