Main Article Content

Abstract

Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Tahun 2023 di India menjadi momentum strategis bagi negara tersebut untuk menegaskan posisinya sebagai kekuatan global baru, khususnya sebagai representasi Global South. Namun, di balik upaya pencitraan internasional tersebut, muncul kebijakan kontroversial berupa penutupan dan penggusuran kampung kumuh di New Delhi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan tersebut sebagai bagian dari strategi pencitraan negara dan pengelolaan ruang kota dengan menggunakan teori spektakel kota Guy Debord. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka terhadap dokumen pemerintah, laporan organisasi masyarakat sipil, pemberitaan media nasional dan internasional, serta literatur akademik terkait urbanisasi dan politik kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutupan kampung kumuh tidak semata-mata merupakan kebijakan penataan kota, melainkan berfungsi sebagai instrumen kekuasaan, kapitalisme perkotaan, kontrol sosial, dan nation branding. Kebijakan ini berhasil membangun citra visual kota yang modern dan tertib, namun pada saat yang sama mengorbankan hak-hak dasar masyarakat miskin, terutama hak atas tempat tinggal dan mata pencaharian. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembangunan kota yang inklusif dan berkeadilan sosial, serta menolak praktik pembangunan yang hanya berorientasi pada pencitraan visual dan kepentingan diplomasi internasional.


Kata kunci: G20_India, kampung_kumuh, spektakel_kota, pencitraan_negara, kapitalisme_ perkotaan

Article Details