PELEPASAN STIGMA DESA PELACUR DARI DESA DUKUHSETI
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengetahui proses pelepasan label dan stigma desa pelacur dari Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, dengan fokus strategi masyarakat menghadapi dan melepaskan stigma. Label dan stigma desa pelacur merusak citra, karakter, dan kepribadian warga, khususnya warga perempuan, remaja, dan anak-anak.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara secara mendalam (in-depth interview) dengan pendekatan siklus interaktif. Verifikasi data atau interaksi dengan narasumber tetap dilakukan sampai tahap penulisan laporan.
Dari penelitian diketahui pelacuran di Desa Dukuhseti terjadi dan berkembang sejak lama yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti budaya, sistem sosial, ekonomi, dan letak geografi. Pelacur dapat dikelompokkan menjadi pekerja seks dan perdagangan seks. Perdagangan seks terjadi karena hegemoni pria atas perempuan dan relasi paternalistik.
Lahirnya stigma negatif karena label yang menyimpang. Pelacuran sempat berkembang tapi tidak semua warga (perempuan) menjadi pelacur dan diuntungkan pelacuran. Label dan stigma desa pelacur menyebabkan diskriminasi dan penarikan jarak terhadap perempuan Dukuhseti, terlebih remaja dan anak-anak. Remaja dan anak-anak mendapat stigma baru sebagai anak haram, anak jadah, dan anak pelacur. Sebagian beradaptasi dengan menyingkir atau merantau ke luar kota.
Pelepasan stigma pada tahap awal dilakukan menutup lokalisasi pelacuran, yang disebut gerakan moralisasi. Gerakan moralisasi berlanjut dengan menutup tempat pelacuran rumahan dan mempersempit akses pelanggan atau penikmat seks dengan pengawasan dan razia rutin. Tokoh-tokoh agama, masyarakat, dan pemuda melakukan gerakan berkelanjutan dengan melakukan pendekatan dari hati ke hati, dakwah, bimbingan individu dan kelompok, pengajian rutin bagi pelacur, keluarga dan mucikari, dan pemberdayaan dan ekonomi dengan pelatihan berbagai ketrampilan wirausaha. Peran tokoh-tokoh agama (NU), tokoh masyarakat, dan pemuda (Ansor) sangat penting, dengan menggandeng aparat pemerintahan.
Kata Kunci: Labelling, stigma, desa pelacur, gerakan moralisasi